Krusial.com — Ruas jalan provinsi Meulaboh-Tutut, Kabupaten Aceh Barat, kian memprihatinkan. Akses utama warga yang dibangun antara tahun 2018 melalui dana otonomi khusus (otsus) tersebut kini dipenuhi lubang dan mengalami kerusakan di sejumlah titik.

Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Kaway XVI, Ruslem, mengatakan jalan tersebut mulai mengalami kerusakan sejak 2019, atau sekitar setahun setelah dibangun. Hingga kini, menurutnya, kondisi jalan semakin parah dan belum mendapat penanganan.

“Sangat memprihatinkan, jalan itu semakin parah rusaknya, bisa kita lihat kondisinya sekarang. Sudah bertahun-tahun tak pernah ada perbaikan dari pemerintah,” kata Ruslem yang juga Kepala Desa Meunasah Rambot kepada Krusial, Kamis (1/10/2026).

Ia menjelaskan, kerusakan jalan ini tersebar di sejumlah titik, mulai dari Desa Beureugang, Tanjong Bungong, Putim, Meunasah Rambot, Alue On hingga Puuk, Kecamatan Kaway XVI.

Ruslem menilai kondisi tersebut perlu segera ditangani karena ruas jalan itu menjadi akses penting masyarakat antar kawasan menuju ibu kota.

Menurut Ruslem, buruknya kondisi jalan juga telah berdampak pada keselamatan pengguna. Ia menyebut seorang warga meninggal dunia pada 2025 setelah mengalami kecelakaan di salah satu titik jalan berlubang tersebut.

“Kerusakan jalannya panjang, lubangnya cukup dalam. Tahun 2025 ada yang meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kecelakaan masih terjadi di ruas tersebut. Pada Kamis (1/10/2026), seorang warga bernama Mawardi dilaporkan mengalami kecelakaan hingga mengalami luka-luka setelah kendaraannya masuk ke lubang jalan. Korban kemudian terpaksa dibawa ke Puskesmas Kaway XVI.

Warga sebelumnya telah berupaya melakukan penanganan secara swadaya dengan mengecor sejumlah lubang menggunakan semen. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga disebut pernah melakukan penambalan di beberapa titik, tetapi kerusakan kembali muncul.

“Hampir setiap hari ada kecelakaan, hari ini juga sama. Kami seluruh keuchik sebenarnya rutin menyuarakan keprihatinan warga terhadap jalan rusak itu, salah satunya melalui Musrenbang, tetapi hingga kini tidak ada hasil sama sekali,” kata Ruslem.

Ia meminta pemerintah segera melakukan penanganan permanen terhadap ruas tersebut. Jika pembangunan ulang belum dapat dilakukan, Ruslem mengusulkan perbaikan sementara melalui metode patching aspal di titik-titik yang mengalami kerusakan parah.

“Jika tidak dibangun ulang, setidaknya dilakukan perbaikan dengan cara patching aspal sepanjang ruas jalan rusak tersebut demi kenyamanan dan keselamatan warga,” tegasnya.

Hal senada disampaikan April, warga Kecamatan Pante Ceureumen. Ia mengaku pernah mengalami kecelakaan tunggal setelah sepeda motor yang dikendarainya masuk ke lubang di ruas tersebut.

“Saya setiap hari berlalu-lalang dari Pante Ceureumen ke Meulaboh. Pernah sekali mengalami kecelakaan tunggal setelah masuk ke lubang, tapi syukur tidak luka-luka,” keluh April.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Fadly Octora, mengatakan persoalan ruas jalan itu telah disampaikan kepada Pemerintah Aceh. Pihaknya juga mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR Aceh dan berkomunikasi intensif dengan kepala UPTD terkait.

“Jalan kewenangan provinsi ini sudah kita lakukan komunikasi dan juga sudah bersurat ke mereka untuk bisa segera diperbaiki,” kata Fadly.

Kepala UPTD PUPR Aceh wilayah Aceh Barat, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan jawaban atas persoalan kerusakan jalan tersebut. Dihubungi berkali-kali, yang bersangkutan juga belum merespons.

Sebagaimana diketahui, ruas Meulaboh-Tutut merupakan jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Aceh Barat dengan Pidie. Kerusakan pada jalur tersebut bukan persoalan baru lagi. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan secara menyeluruh agar akses masyarakat kembali aman dan nyaman, serta keselamatan pengguna jalan terjamin. ***