Krusial.com — Harga emas dunia dalam sepekan ke depan, berpeluang untuk turun dipengaruhi oleh dinamika global. Dinamika global juga akan mempengaruhi harga minyak dunia, indeks dolar AS dan nilai tukar rupiah.
“Harga emas dunia sepekan ke depan masih fluktuatif. Tetapi dengan kecenderungan turun,” kata Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuibi dalam analisis mingguannya, Minggu, 27 September 2026.
Harga emas dunia pekan diprakirakan bergerak di level support sebesar USD3.948 per troy ons. Sedangkan level resistansi sebesar USD4.654 per troy ons.
Sedangkan logam mulia dalam perdagangan pekan depan akan bergerak di kisaran Rp2,52 juta per gram hingga Rp2,72 per gram. Sementara itu, indeks dolar diprakirakan masih akan menguat di kisaran level 100-102, yang akan membuat mata uang rupiah melemah.
“Nilai tukar rupiah berisiko melemah hingga Rp18.150-Rp18.200 per dolar AS. Kalaupun menguat, nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Sedangkan harga minyak, untuk harga minyak mentah WTI diprakirakan akan bergerak di rentang USD87,60-USD100 per barel. Ibrahim menyebutkan sejumlah faktor penting yang akan mempengaruhi harga minyak, indeks dolar AS, nilai tukar rupiah dan harga emas dunia.
“Yakni faktor geopolitik, kebijakan perpolitikan di AS dan kebijakan bank sentra AS. Sedangkan harga emas dunia, juga dipengaruhi oleh sisi permintaan terhadap emas,” ucap Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, pasar akan mencermati konflik AS-Iran yang kemungkinan masih akan berlanjut. Iran memiliki posisi tawar yang tinggi, yang membuat AS utamanya Presiden Trump sulit memenuhi tuntutan Iran dalam negosiasi perdamaian.
Sementara itu, pemerintah Arab Saudi meminta bantuan Turki dan Pakistan untuk menghadapi tekenan dari kelompok Houthi di Yaman. Sementara di Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung meski secara sporadis.
Uni Emirat Arab berupaya menfasilitasi pertemuan antara Rusia dan Ukraina agar mengakhiri perang. Gejolak di Timur Tangah serta perang Rusia-Ukraina telah mengganggu pasokan dan harga minyak dunia.
Dari sisi perpolitikan AS, kepercayaan rakyat AS terhadap Presiden Trump semakin menurun jelang pemilu sela. “Ada kemungkinan Partai Republik-partainya Trump- akan dikalahkan oleh Partai Demokrat,” ucap Ibrahim.
Di saat yang sama, mayoritas pejabat the Fed menginginkan ketua the Fed Kevin Warsh, menaikkan suku bunga bulan Oktober. Jajak pendapat juga menunjukkan hampir 60 persen responden memprakirakan suku bunga the Fed akan naik bulan Oktober.
Sedangkan untuk harga emas, Ibrahim menyebut turunnya harga emas adalah kesempatan bank-bank sentral untuk meningkatkan cadangan emasnya. “Bank sentral yang aktif membeli emas adalah bank sentral Tiongkok,” ucapnya.
Menurut Ibrahim sejak awal tahun hingga Juli 2026, bank sentral Tiongkok telah membeli emas sebanyak 2,38 juta ton emas. Bank sentral Tiongkok diprakirakan akan terus melakukan pembelian emas jika harga emas dunia turun.***
Tinggalkan Balasan