Krusial.com — Transformasi pendidikan vokasi menuju era digital terus diperkuat. Menjawab tantangan revolusi industri dan kebutuhan dunia kerja berbasis teknologi, tim dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kamis (06/08/2026).
Skema kegiatan ini digelar melalui pelatihan “Pendampingan Manufaktur Aditif Berbasis Mesin Cetak 3 Dimensi guna Pengembangan Kompetensi Guru Produktif SMK Jurusan Teknik Permesinan di Aceh Utara.”
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, tanggal 5-6 Agustus 2026, dipusatkan di SMK Negeri 1 Dewantara, Aceh Utara. Sebanyak 10 guru produktif dari empat SMK binaan PNL mengikuti pelatihan ini, yakni SMK Negeri 1 Dewantara, SMK Negeri 1 Lhoksukon, SMK Negeri 1 Lhokseumawe, dan SMK Negeri 7 Lhokseumawe.
Program ini dipandu oleh tiga dosen PNL, yaitu Mahmud dan Khairul Mizan Us dari Jurusan Teknik Mesin, serta Muhammad Azzahri dari Jurusan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK).
Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi wujud sinergi antara kompetensi rekayasa manufaktur dan teknologi digital dalam mendukung penguatan pendidikan vokasi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Pemula (PMP) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.
Program tersebut selaras dengan implementasi Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, percepatan transformasi digital nasional, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendidikan berkualitas dan penguatan inovasi teknologi.
Pelatihan dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru produktif dalam menguasai teknologi Additive Manufacturing atau manufaktur aditif melalui pemanfaatan mesin 3D Printing, salah satu teknologi yang kini menjadi tulang punggung industri manufaktur modern.
Penguasaan teknologi ini dinilai sangat strategis karena dunia usaha dan dunia industri (DUDI) semakin membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan sistem manufaktur digital, mulai dari proses desain, pembuatan prototipe, hingga produksi berbasis teknologi.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi secara komprehensif yang meliputi desain dan pemodelan digital (CAD), proses slicing dan konfigurasi mesin 3D Printing, pengoperasian serta perawatan mesin, hingga praktik langsung (hands-on) dalam mencetak berbagai komponen menggunakan printer tiga dimensi.
Pendekatan praktik ini memberikan pengalaman nyata sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan teknologi tersebut dalam proses pembelajaran di sekolah.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat digitalisasi pembelajaran di SMK. Guru diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi 3D Printing ke dalam kurikulum praktik sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih inovatif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Transformasi tersebut sejalan dengan visi pendidikan vokasi Indonesia yang menempatkan sekolah sebagai pusat pengembangan talenta digital.
Kehadiran teknologi manufaktur aditif di lingkungan SMK diharapkan mampu melahirkan budaya inovasi, memperkuat kemampuan berpikir kritis, problem solving, desain produk, serta mendorong lahirnya berbagai karya dan prototipe hasil kreativitas siswa.
Melalui program ini, Politeknik Negeri Lhokseumawe kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi vokasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas guru, memperkuat kemitraan dengan sekolah, serta mempercepat transformasi pendidikan berbasis teknologi di Aceh.
Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi vokasi, SMK, pemerintah, dan dunia industri diharapkan semakin erat sehingga ekosistem pendidikan vokasi digital dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dengan demikian, lulusan SMK tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kompetensi sebagai inovator dan technopreneur yang mampu bersaing pada era Industri 4.0 menuju Society 5.0, sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.***
Tinggalkan Balasan