Krusial.com – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengungkapkan alasan di balik pengambilalihan 100 persen saham PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) dari dua entitas afiliasinya, PT Infinity Investama (IFI) dan PT Prima Mas Abadi (PMA), yang telah rampung pada 29 Juni 2026.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen DSSA menyatakan bahwa investasi tersebut dilakukan untuk memanfaatkan kepemilikan saham BMT di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Hingga akhir Juni 2026, BMT tercatat masih menguasai sekitar 24,59 persen saham EXCL, setelah sebelumnya menjadi pemegang saham pengendali pascamerger PT XL Axiata Tbk dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) pada April 2025.

Menurut manajemen, merger tersebut telah melahirkan entitas telekomunikasi dengan skala bisnis yang lebih besar, fundamental yang lebih kuat, serta daya saing yang lebih tinggi di industri telekomunikasi nasional.

Perseroan meyakini investasi pada BMT akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan nilai investasi sekaligus membuka peluang peningkatan penerimaan dividen di masa mendatang.

“Perseroan meyakini bahwa investasi pada BMT dapat memberikan kontribusi positif terhadap nilai investasi dan potensi penerimaan dividen bagi Perseroan,” tulis manajemen DSSA dalam keterbukaan informasinya.

Sebagai bagian dari transaksi tersebut, DSSA menanamkan investasi melalui dua anak usahanya, yakni PT DSST Mas Gemilang dan PT Sinarmas Sukses Sejahtera, dengan nilai mencapai Rp4 triliun.

Tidak lama setelah akuisisi selesai, melalui PT DSST Mas Gemilang, DSSA kembali memperkuat struktur permodalan BMT dengan menyuntikkan modal sebesar Rp8,54 triliun melalui penerbitan dan pengambilan saham baru pada 6 Juli 2026.

Perseroan menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kapabilitas operasional, meningkatkan penguasaan teknologi, serta mempercepat integrasi ekosistem digital di lingkungan Grup Sinarmas.

DSSA sendiri merupakan perusahaan induk Grup Sinarmas yang memiliki portofolio usaha di berbagai sektor, mulai dari layanan internet melalui PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), pusat data (data center) melalui SMPlus, pertambangan batu bara melalui PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), hingga bisnis energi panas bumi.

Seiring rampungnya akuisisi, kinerja keuangan BMT akan mulai dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan DSSA.

Dari sisi kinerja, hingga kuartal I 2026 DSSA membukukan laba bersih sebesar US$82,26 juta, meningkat sekitar 2,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan perseroan tercatat turun sekitar 6 persen menjadi US$693,24 juta.

Lini usaha pertambangan batu bara melalui GEMS masih menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan dengan porsi sekitar 86,72 persen, sedangkan bisnis televisi kabel, internet, dan teknologi menyumbang sekitar 9,98 persen dari total pendapatan hingga Maret 2026.***