Krusial.com — Fakta mengejutkan mulai terungkap dalam kasus dugaan pencabulan yang menyeret Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Kabupaten Pati.

Modus yang diduga digunakan kiai tersebut kini dibongkar langsung oleh salah satu mantan santriwati yang mengaku pernah menjadi korban.

Perempuan yang menggunakan nama samaran Tari itu akhirnya memberanikan diri buka suara setelah enam tahun memilih diam. Ia mengaku mengalami perlakuan tak senonoh saat masih mondok di pesantren tersebut.

Pengakuan Tari disampaikan dalam sebuah podcast bersama Denny Sumargo yang kemudian ramai diperbincangkan publik di media sosial.

Dalam perbincangan tersebut, Tari membeberkan bagaimana awal mula dirinya diduga menjadi korban perlakuan cabul Ashari.

Saat itu, Tari masih duduk di bangku kelas 9 SMP dan menjadi salah satu santriwati di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo.

Ia mengaku cukup dekat dengan Ashari karena sering berada di lingkungan dalam pesantren atau area ndalem. Kedekatan itulah yang kemudian disebut dimanfaatkan oleh sang kiai.

Menurut Tari, awalnya ia diminta untuk memijat Ashari. Namun setelah selesai memijat, ia mulai mendapatkan perlakuan tidak pantas.

“Awal mulanya disuruh mijetin. Terus dicium. Kalau udah selesai kan pamitan, terus dicium,” ungkap Tari dalam podcast tersebut.

Ia mengatakan tindakan mencium pipi hingga bibir dianggap hal biasa di lingkungan pesantren, khususnya bagi santri yang dekat dengan keluarga kiai.

“Kalau sudah ndalem sama pak kiai biasa. Tapi kalau santri biasa cuma salam tangan,” lanjutnya.

Seiring waktu berjalan, perlakuan yang diterima Tari disebut semakin jauh. Ia tak hanya diminta memijat, tetapi juga sering diajak bepergian bersama Ashari.

Mulai dari ziarah hingga menghadiri acara sholawatan di luar kota. Dalam beberapa kesempatan, Tari mengaku diajak bepergian hanya berdua dengan sang kiai.

“Biasanya berdua, biasanya rame-rame. Kalau santri kan melekatnya harus tawadu,” ujarnya.

Pengakuan yang paling mengejutkan muncul ketika Tari menceritakan dirinya beberapa kali diminta menemani Ashari tidur dalam satu kamar setelah kegiatan ziarah atau sholawatan selesai.

“Kalau habis ziarah sama sholawatan, biasanya langsung diajak nemenin tidur. Enggak sampai berhubungan sih,” kata Tari.

Mendengar pengakuan itu, Denny Sumargo langsung mempertanyakan alasan di balik tindakan tersebut.

“Tidur maksudnya tidur satu kamar? Lah dalilnya apa?” tanya Denny Sumargo.

Tari kemudian mengungkap alasan yang disampaikan Ashari kepadanya saat itu.

Menurut pengakuannya, Ashari berdalih bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari proses penyembuhan penyakit batin atas arahan guru tarekat.

“Katanya, di sana kan ada guru torikoh, bilangnya disuruh guru torikoh itu, ini bagian dari nyembuhin sakit,” jawab Tari.

Tak berhenti sampai di situ, Ashari disebut kerap mengatakan bahwa Tari memiliki banyak penyakit hati seperti iri dengki dan fitnah sehingga perlu “disembuhkan”.

“Katanya gitu, saya banyak iri, saya banyak penyakit dalam, semacam iri dengki, banyak fitnah,” ujar Tari lagi.

Denny Sumargo kemudian mencoba memastikan maksud ucapan tersebut.

“Oh jadi ceritanya dia melihat kamu, terus dia menerawang?” tanya Densu.

“Iya. (Kata kiai) ‘kamu itu banyak sakitnya, kamu itu iri dengki, obatnya gini’,” jawab Tari.

“Obatnya tidur bareng?” tanya Denny lagi.

“Iya, salah satu obat,” ucap Tari.

Saat itu, Tari mengaku dirinya tidak langsung memahami maksud sebenarnya dari tindakan Ashari. Sebagai santri, ia hanya merasa takut sekaligus bingung.

“Aku enggak nangkepnya gimana-gimana. Cuma aku mikir emang aku seburuk itu. Kadang mau kadang menolak juga. Takut sih pak, aku enggak pernah tidur beneran, cuma merem aja,” ungkapnya.

Namun seiring waktu, perlakuan yang diterimanya disebut semakin mengarah pada tindakan seksual yang lebih jauh.

Tari mengaku pernah diminta melakukan tindakan tak senonoh terhadap Ashari dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.

“Pernah satu kejadian pak kiai sampai bilang disuruh emut (alat kelamin), biar nanti ada darah daging di tubuh saya,” ungkap Tari.

Kuasa hukum Tari yang turut hadir dalam podcast tersebut juga membenarkan adanya dugaan modus manipulasi spiritual yang dilakukan Ashari terhadap para korban.

“Inisial A ini keinginannya itu memasukkan alat kelaminnya di mulut, ditelan, agar diakui nabi dan umat dan guru torikohnya,” ujar pengacara Tari.

Kasus dugaan pencabulan yang menyeret Ashari sendiri kini menjadi perhatian luas masyarakat. Sebelumnya, polisi telah menetapkan Ashari sebagai tersangka atas dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati.

Setelah sempat melarikan diri dan berpindah-pindah lokasi, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Jakarta, Ashari akhirnya berhasil ditangkap aparat kepolisian di wilayah Wonogiri pada Kamis (7/5/2026) dini hari.

Pihak kepolisian menyebut proses hukum terhadap tersangka akan terus berjalan guna mengungkap seluruh fakta dan memberikan keadilan bagi para korban yang selama ini memilih bungkam.

source: TribunnewsBogor.com