Krusial.com — Emiten yang berada di bawah konglomerasi grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengebut strategi pertumbuhan di 2026. Di balik bisnis batu bara yang masih mendominasi, DSSA diam-diam membangun mesin pertumbuhan baru dari sektor digital dari jaringan fiber hingga dompet digital DANA yang bersiap IPO.
Laju DSSA mengebut kinerja makin menguat seiring aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham (stock split) yang mulai berlaku Kamis (9/4/2026). Mengacu data BEI, harga saham DSSA dibuka di level Rp 2.680, hasil penyesuaian stock split 1:25 dari harga penutupan sebelumnya Rp 67.000.
Aksi korporasi ini membuat saham DSSA di pasar menjadi lebih banyak dari sebelumnya 7,7 miliar lembar saham menjadi 192,6 miliar saham. Adapun nominal saham turun dari Rp 25 menjadi Rp 1 per lembar.
Direktur DSSA, Daniel Cahya mengatakan dengan nilai nominal saham yang baru menjadi kesempatan terakhir bagi DSSA untuk melakukan pemecahan saham. Sementara itu ia berkeyakinan DSSA akan selalu memberi nilai tambah kepada para pemagang saham terutama dengan berbagai ekspansi dan diversifikasi yang kini tengah disiapkan.
“Harapannya investor ritel semakin dapat mengakses saham dan ikut menjadi bagian dari ekosistem DSSA,” ujar Daniel dalam diskusi terbatas yang diikuti Katadata.co.id seperti dikutip Kamis (9/4/2026).
Seiring dengan aksi stock split, DSSA kini terus berkembang menjadi salah satu entitas dengan portofolio bisnis terdiversifikasi di Indonesia. Gurita bisnisnya membentang dari energi dan pertambangan, infrastruktur digital, hingga layanan teknologi dan platform konsumen.
Namun di balik agresivitas ekspansi ke digital, struktur pendapatan DSSA masih sangat bergantung pada batu bara. Secara struktur, DSSA terbagi dalam dua pilar besar, yakni Sinarmas Energy & Infrastructure serta Sinarmas Communication & Technology.
Pilar pertama mencakup tambang batu bara melalui Golden Energy Mines (GEMS), energi baru terbarukan (EBT), hingga sektor kimia. Sementara pilar kedua mengelola aset telekomunikasi dan digital, termasuk MyRepublic Indonesia serta konsolidasi kepemilikan di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Lebih lengkap mengenai jejaring bisnis Dian Swastatika dapat dilihat dari gambar berikut:
Dengan diversifikasi yang luas, ketimpangan kontribusi pendapatan pun masih mencolok. Pada 2025, GEMS menyumbang sekitar 89% dari total pendapatan DSSA dengan nilai mencapai US$2,48 miliar. Angka ini menegaskan bahwa mesin utama perusahaan masih bertumpu pada komoditas.
Daniel mengakui dominasi tersebut masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, ia menegaskan arah diversifikasi perusahaan mulai bergeser.
“Yang kami harapkan, bisnis infrastruktur digital dan energi akan naik signifikan dalam 3-4 tahun ke depan dan kontribusi ke revenue bisa tumbuh dua digit,” ujar Daniel.
Ambisi menyeimbangkan pendapatan antara batu bara dan nonbatu bara dalam 3-4 tahun ke depan bukan tanpa tantangan. Ketergantungan pada batu bara membuat DSSA rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Manajemen DSSA mengakui tekanan harga masih terjadi, meskipun volume produksi meningkat. Di sisi lain, ekspansi ke digital dan EBT menuntut belanja modal besar dengan periode pengembalian yang lebih panjang.
Tantangan lain juga muncul dalam ekosistem digital. DSSA kini mengintegrasikan berbagai lini usaha mulai dari backbone fiber sepanjang puluhan ribu kilometer, layanan broadband, hingga pengembangan data center Tier IV dan inisiatif AI. Kombinasi ini membentuk model bisnis end-to-end, dari infrastruktur hingga layanan ke pengguna akhir.
Di sisi lain, meski MyRepublic Indonesia telah menjadi pemain FTTH terbesar kedua di Indonesia dengan lebih dari 1,5 juta pelanggan dan 8,7 juta homepass, pangsa pasar yang baru sekitar 11% menunjukkan ruang tumbuh yang besar sekaligus medan persaingan yang ketat. Selain itu, integrasi berbagai entitas, mulai dari telekomunikasi, data center, hingga AI, membutuhkan eksekusi yang presisi.
Transformasi dari Energi ke Infrastruktur Digital
Meski batu bara masih menjadi fondasi jangka pendek, arah strategis DSSA mulai bergeser. Kontribusi energi fosil secara bertahap akan diseimbangkan dengan pertumbuhan bisnis digital dan EBT.
Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, menjelaskan bahwa dominasi GEMS akan terdilusi oleh ekspansi segmen baru. Meski begitu, Lokita menyatakan sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis Perseroan dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.
“Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi,” ujar.
Lokita dalam temu media pada Kamis (2/4). Lokita mengatakan, perusahaan saat ini mengebut akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan.
Dengan adopsi teknologi ini, Perseroan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon. Selain itu DSSA secara bertahap juga memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), terutama pada sektor panas bumi dan tenaga surya.
“Langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40% potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang,” ujar Lokita.
Ia menjelaskan, komitmen ini diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal serta pengembangan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah.***
Tinggalkan Balasan