Krusial.com — Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) terbang ke level tertinggi dalam 15 bulan pada Senin (30/3/2026). Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi bahwa Indonesia akan melanjutkan program biodiesel berbasis sawit (B50), di tengah naiknya harga minyak mentah global.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Senin (30/3/2026), kontrak berjangka CPO untuk April 2026 melonjak 126 Ringgit Malaysia menjadi 4.666 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2026 terkerek 137 Ringgit Malaysia menjadi 4.748 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Juni 2026 melejit 141 Ringgit Malaysia menjadi 4.772 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juli 2026 terkerek 145 Ringgit Malaysia menjadi 4.772 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 melesat 143 Ringgit Malaysia menjadi 4.740 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan Kontrak berjangka CPO September 2026 melambung 141 Ringgit Malaysia menjadi 4.711 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari TradingView, trader proprietary di perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur David Ng mengatakan, harga CPO melonjak di atas 4.700 Ringgit Malaysia per ton setelah muncul kabar bahwa Indonesia akan segera menjalankan program biodiesel B50, seiring kenaikan harga minyak mentah.

Dalam kunjungan resmi ke Jepang, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah akan melanjutkan program biodiesel B50 pada tahun ini.

“Kami melihat harga bertahan di atas 4.700 Ringgit Malaysia per ton dan menghadapi resistance di level 4.850 Ringgit Malaysia per ton,” ujarnya.

Harga Minyak Kedelai

Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,67%, sementara kontrak minyak sawitnya melonjak 2,84%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga naik 1,96%. Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena bersaing dalam pasar global minyak nabati.

Sementara itu, harga minyak mentah kembali menguat pada Senin, dengan Brent mengarah ke kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah, setelah kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan ke Israel dan memperluas konflik AS-Israel melawan Iran.

Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Di sisi lain, mata uang ringgit Malaysia melemah 0,35% terhadap dolar AS, sehingga membuat harga minyak sawit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Sementara itu, survei kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1–25 Maret meningkat antara 38,4% hingga 50,6% dibandingkan bulan sebelumnya. Data ekspor penuh untuk Maret dijadwalkan rilis pada Selasa (31/3/2026).

Secara terpisah, regulator pasar India memperpanjang penangguhan perdagangan derivatif pada tujuh komoditas pertanian utama, termasuk minyak sawit mentah, hingga akhir Maret tahun depan guna menekan harga.***