Krusial.com — Perombakan perdagangan minyak Venezuela memicu dampak yang semakin luas di pasar kapal tanker global.
Tarif pengangkutan minyak mentah melonjak di berbagai wilayah setelah Amerika Serikat mulai memperketat kendali atas arus ekspor Venezuela, yang sebelumnya banyak ditangani oleh armada gelap kapal tua.
Seperti dikutip bloomberg.com, Kamis (22/1), para pemilik kapal kini mengerahkan tanker legal ke sekitar Teluk AS untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, alih-alih menempatkannya di perairan dekat pusat produksi utama seperti Timur Tengah.
Perubahan ini mendorong tarif pengiriman ke China melonjak, seiring kenaikan serupa yang sebelumnya terjadi di kawasan Karibia dan Meksiko.
Lonjakan perdagangan minyak Venezuela turut mendongkrak tarif angkutan tanker global, di tengah kondisi pasokan kapal yang sudah tertekan oleh berbagai faktor lain.
Pendapatan harian kapal tanker pada rute Timur Tengah, China hampir tiga kali lipat sepanjang tahun ini menjadi mendekati US$114.000. Sementara itu, tarif pengiriman dari Teluk AS ke China tercatat naik 73%.
Pendapatan kapal pada rute Karibia, Teluk AS juga terus meningkat, bahkan mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada Rabu, mendekati US$82.800 per hari.
Dalam langkah yang jarang terjadi, sebuah tanker kosong pekan lalu memulai pelayaran selama 45 hari dari Timur Tengah menuju Amerika.
Kapal Megan Glory, yang sebelumnya menyelesaikan pengiriman ke Sohar, Oman, sempat memberi sinyal akan bertahan di kawasan tersebut pada 12 Januari, sebelum beberapa hari kemudian mengumumkan perjalanannya menuju Teluk AS untuk menunggu muatan.
Langkah-langkah seperti yang dilakukan Megan Glory mendorong penyewa kapal menawarkan tarif lebih tinggi untuk pengiriman jangka pendek di rute-rute non-Amerika.
Kapal Al Riqqa, misalnya, disewa pada Rabu dengan tarif tertinggi sepanjang tahun ini sebesar 140 poin Worldscale, standar industri dengan basis biaya 100, untuk mengangkut minyak mentah Kuwait ke Singapura pada awal Februari.***
Tinggalkan Balasan