Seiring perjalanan waktu, cara manusia memandang dan melahirkan karya seni ikut berubah. Dulu, kreativitas tumbuh perlahan di antara malam-malam panjang, di balik proses yang penuh penghayatan.
Setiap goresan, setiap warna, adalah denyut pengalaman yang tak bisa dipercepat. Kini, di era ketika satu baris instruksi mampu menjelmakan gambar dalam sekejap, seni seperti memasuki persimpangan baru.
Di satu sisi, kemudahan itu memukau, di sisi lain, ia menantang pemaknaan lama tentang apa yang disebut sebagai “karya.” Perbandingan antara ketekunan masa silam dan kecepatan zaman kini pun menjadi percakapan yang tak dapat dihindari.
Manusia tumbuh dan berkembang untuk menikmati dan mengapresiasi karya seni, yang terlahir dari buah kreativitas budaya peradaban. Karya seni dapat membuat seseorang terkagum-kagum, tergugah untuk bergerak, atau bahkan menantang stigma yang ada di masyarakat.
Era serba mudah dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) dalam membuat “karya seni,” membuat orang-orang berbondong membuat ilustrasinya sendiri. Dengan hanya memasukkan prompt atau instruksi kepada AI, semua orang bisa membuat gambar dengan sangat mudah.
Meski demikian, tidak semua orang menerima karya hasil AI tersebut sebagai hasil dari sebuah kreativitas. MM Genoveva, seorang penikmat komik, mengaku keberadaan AI dapat merugikan kreator.
Menurutnya, AI untuk senang-senang mungkin tidak menjadi masalah, namun bila dibiarkan terus-menerus bisa membahayakan. Ia khawatir, karya orisinil kreator dapat dijiplak dengan mudah, yang malah akan merugikan kreator itu sendiri.
“Cuma bagi penikmat, yang memang dari original kreatornya, itu agak sangat disayangkan ya. Soalnya kalau pakai AI nanti, karya mereka original akan dijiplak sama AI,” ujar Genoveva.
“Tapi saya lebih mendukung karya original dari kreator tersebut. AI itu untuk senang-senangan oke, cuma lama-kelamaan, lebih ke kasihan hak cipta dari kreator tersebut yang original.”
Meski keberadaan AI cukup mengkhawatirkan, manusia terus mengekspresikan perasaannya melalui karya-karya buah proses kreatif. Bagi Irvan Deriano Koswara, seorang illustrator, AI bukanlah sebuah ancaman.
Irvan menganggap keberadaan AI hanyalah sebuah tantangan dan juga kesempatan baru bagi kreativitas itu sendiri. Menurutnya, AI hanyalah alat bantu, yang tidak dapat menyamai pengalaman, intuisi, serta jiwa seorang manusia.
“Penggunaan AI dalam ilustrasi itu sebenernya bukan hinaan buat illustrator; lebih ke tantangan baru. AI cuma alat, dan alat tidak bisa menyamai pengalaman, intuisi, serta jiwa yang illustrator taruh dalam karya,” ujar Irvan dalam wawancara bersama RRI.
Ilustrasi, bagi Irvan, bukanlah sekadar gambar, melainkan semangat dan kecintaannya kepada karya seni itu sendiri. Irvan, bahkan, memulai berkarya dari sejak kecil.
“Awalnya cuma nyontek karakter dari kartun sama game yang aku sukai. Tapi makin kesini aku sadar, setiap garis dan warna itu bisa menceritakan sesuatu yang sulit diungkapkan.”
Irvan mengganggap karya ilustrasinya sebagai bahasa kedua untuk menyuarakan isi hatinya. Meski demikian, Ia mengakui kreativitas tidak datang begitu saja.
Kreativitas terlahir dari kemauan untuk berkembang, belajar, dan berani melawan rasa minder. Dunia seni sangatlah luas, dan karya yang terlahir murni dari pemikiran manusia memiliki spektrum bervariatif, membuat banyak seniman minder.
Sambil tersenyum tipis, Irvan menegaskan, karya kreatif orang lain bukanlah saingan, melainkan bahan inspirasi. Kesulitan yang illustrator rasakan selama berkarya adalah yang membimbing mereka menjadi kreatif.
“Perjuangan di awal sih lebih ke rasa minder dan membanding-bandingkan karya sendiri sama orang lain. Tapi lama-lama aku belajar, mereka bukan buat saingan, tapi buat belajar,” ujar Irvan.
“Apalagi dulu alatku seadanya banget, tapi justru dari situ aku jadi kreatif. Aku belajar pakai apa yang ada dulu aja, jangan nunggu semuanya sempurna.”
Disiplin dan kejujuran yang selama ini Irvan pegang sebagai budaya dalam bekerja membuatnya lebih bertanggung jawabnya. Baginya, seni juga soal tanggung jawab, bukan sekadar ekspresi.
Hal ini selaras dengan yang disampaikan seniman atau yang lebih dikenal sebagai komikus Indonesia, Gerdi Wirata Kusuma atau Gerdi WK. Gerdi WK adalah komikus gerbong terakhir Indonesia sejak masa kejayaan komik Indonesia.
Ia dikenal sebagai kreator tokoh pahlawan super perempuan, Gina dan Santini, serta illustrator untuk cerpen Majalah Bobo. Puluhan buku komik, kliping komik strip, novel, tumpukan sketsa, serta lukisan yang telah di pigura memenuhi lantai dua rumahnya.
Di lantai tersebut, Gerdi menuangkan seluruh ide dan gagasan kreatifnya ke dalam secarik kertas, menciptakan karya gambar. Bahkan, diusianya yang telah lansia, Gerdi tidak pernah berhenti untuk terus berkarya dan belajar.
“Kita bekerja sambil belajar, tidak pernah berhenti belajar. Sambil bekerja, kita terus mengulik hal-hal baru, mempelajari dan mematangkan apa yang telah kita Jalani,” kata Gerdi kepada RRI.
“Dengan kita mencari hal-hal yang baru sambil berjalan, kita tidak akan terjebak di hal-hal membosankan selama-lamanya. Kita harus mampu menampilkan hal-hal baru diantara segala yang sedang tren.”
Ia, lalu, mencontohkan sebuah pola pikir yang bisa menjadi langkah awal seseorang dalam membangun sebuah cerita. “Indonesia punya khasanah cerita-cerita daerah; bisa saja dari cerita daerah itu ditampilkan dengan gaya yang lebih modern.”
Gerdi tidak menapikkan bahwa sebuah karya terlahir atau berawal dari talenta yang dimiliki seseorang. Namun, baginya, wawasan yang luas lah yang mampu membawa seseorang menjadi kreator.
“Terutama hobi, wawasan, wawasan tentang bidang yang akan ditekuni itu sejauh apa. Kalau misalkan kita perlu melengkapi diri dengan keahlian, pada umumnya untuk hal-hal begitu kan diawali talenta dulu, talenta terus keinginan,” ujarnya.
“Tapi tidak cukup dengan itu, kita harus membekali diri dengan wawasan yang lebih luas tentang hal yang mau kita tekuni. Kalau misalkan itu udah dapat, kita mulai berkarya, kita gabung dengan komunitas supaya dapat masukan-masukan dari yang udah berjalan.”
Menurut Gerdi, wawasan luas dapat diperoleh dari pengalaman orang lain. Ilmu, pengalaman, serta usaha dari orang lain dapat menjadi penerang kita dalam mencari jati diri.
“Itu penting, belajar dari pengalaman orang lain juga. Kalau tanpa itu sih, kita kan buta, kita mau majunya ke mana, arahnya mau ke mana.”
“Kita banyak bergaul dengan orang-orang yang udah jalan, kita bisa mengikuti jalur yang mereka ambil itu, kita ikuti. Bukan berarti sebagai epigon atau pengikut, bukan, kita juga harus mencari jalan sendiri, tapi berdasarkan yang sudah terbukti.”
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Gerdi Wirata Kusuma tidak pernah berhenti berkarya dan belajar. Karya komik terbarunya berjudul “Kaum Depok,” sebuah komik yang menceritakan sejarah Kota Depok, menjadi bukti bahwa belajar tidak pernah ada habisnya.
Meski begitu, dari cerita para kreator kita belajar bahwa esensi seni tak pernah semata-mata terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada perjalanan batin yang mengantarkan seseorang untuk berkarya. Zaman boleh berubah, alat boleh bertambah canggih, tetapi manusia tetaplah sumber dari getaran makna yang tak dapat ditiru algoritma.
Dari intuisi, keraguan, hingga keberanian untuk bertumbuh. Semua itu menjadi bahasa sunyi yang mengikat satu seniman dengan seniman lainnya, dari masa lalu hingga hari ini.
Dan pada akhirnya, seni tetap menjadi ruang di mana manusia saling menemukan. Karena seperti yang dikatakan Irvan Koswara, seni adalah bahasa universal yang bisa menyatukan siapa saja.***
Tinggalkan Balasan