Krusial.com — Holding operasional BPI Danantara menegaskan, penyelamatan Garuda Indonesia Group tidak akan dimulai dari belanja armada baru, melainkan dari menghidupkan kembali puluhan pesawat yang saat ini tidak bisa terbang karena mangkrak tanpa perawatan.

Managing Director Holding Operasional BPI Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan bahwa kondisi grounded ini menciptakan beban ganda bagi maskapai. Beban tersebut termasuk pesawat yang tidak terbang pasti tidak menghasilkan pendapatan serta adanya beban pembayaran sewa pesawat tersebut yang terus berjalan.

Ia menegaskan bahwa suntikan modal yang disiapkan pemerintah lewat Danantara bukan untuk ekspansi agresif, melainkan untuk menutup kebutuhan paling mendesak yaitu maintenance pesawat Garuda dan Citilink. Menurut Febriany, jumlah pesawat yang grounded berada di kisaran puluhan unit, dengan mayoritas berasal dari Citilink.

“Setiap hari kita menunda, semakin besar lubang yang harus ditutup. Ini tahap satu, prioritas banget-banget. Tujuannya return of service, bikin pesawatnya terbang dulu,” kata Febriany di Gedung Danantara, Jumat (14/11/2025).

Dalam rencana transformasi GIAA sendiri, Febriany mengatakan Garuda Indonesia akan mengeksekusi transformasi besar yang bertumpu pada empat fokus utama.

Pertama, peningkatan layanan untuk mengembalikan standar full service Garuda, mulai dari pengalaman check-in, lounge, hingga keramahan awak kabin dan penyegaran in-flight entertainment yang sudah stagnan sejak 2018.

Kedua, transformasi bisnis dengan penataan rute berbasis profitabilitas, optimalisasi kerja sama code share, serta peningkatan kontribusi pendapatan kargo yang selama ini masih rendah. Ketiga, perbaikan operasional yang menekankan keselamatan, ketepatan waktu, dan percepatan pengembalian pesawat ke layanan agar reliabilitas meningkat.

Terakhir, modernisasi teknologi karena banyak sistem Garuda dinilai usang dan belum terintegrasi, termasuk upaya mengurangi ketergantungan pada agen guna memperbaiki margin penjualan.

Seperti yang diketahui, GIAA menunda penambahan jumlah unit pesawat yang sebelumnya gencar dibicarakan. Bahkan, sebelumnya manajemen GIAA mengklaim lebih dari 10 pesawat yang akan dipesan.

GIAA memutuskan untuk mengkaji kembali penambahan jumlah pesawat yang beroperasi, seiring dengan rencana penyehatan dan jajaran pengurus yang baru saja ditunjuk.

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan menjelaskan bahwa dari total empat pesawat yang telah mencapai tahap letter of intent (LOI), hanya satu unit yang akan tetap dilanjutkan karena sudah dibayarkan uang muka (down payment/DP).

“Dari empat pesawat, tiga kami tunda dulu, hold dulu. Yang satu ini sudah terlanjur DP. Alasannya, kami harus perbaiki dulu ini. Kalau tidak, kami akan terus bayar ke lessor,” ujar Glenny Kairupan di Garuda Sentra Operasi, Kamis (13/11/2025).

Glenny menambahkan, keputusan untuk menunda penambahan tiga pesawat lainnya dilakukan agar perusahaan dapat memperkuat kondisi keuangan dan operasional sebelum melanjutkan ekspansi armada baru.