Krusial.com — Pemerintah Gaza melaporkan bahwa hanya 986 truk bantuan yang berhasil memasuki Jalur Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan. Jumlah tersebut jauh di bawah angka yang disepakati dalam perjanjian gencatan senjata, dilansir dari Anadolu, Rabu (22/10/2025).
Berdasarkan kesepakatan, seharusnya 6.600 truk bantuan sudah masuk hingga Senin (20/10/2025) malam, dengan target harian mencapai 600 truk per hari. Namun, rata-rata bantuan yang masuk setiap hari hanya mencapai 89 truk, menandakan adanya hambatan serius dalam pelaksanaan kesepakatan tersebut.
Pemerintah Gaza menyebut kondisi ini sebagai bukti berlanjutnya kebijakan tekanan dan blokade oleh Israel. Mereka menilai Israel menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai alat pemerasan terhadap warga Gaza.
Situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang dialami oleh lebih dari 2,4 juta penduduk. Dari total bantuan yang masuk, hanya sebagian kecil yang bersifat vital.
Sebanyak 14 truk membawa gas memasak. Sementara itu, 28 truk lainnya berisi bahan bakar solar untuk operasional rumah sakit, toko roti, generator, serta layanan penting lainnya.
Namun, pemerintah menilai jumlah tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Gaza. Dalam pernyataannya, pemerintah menegaskan bahwa Gaza membutuhkan setidaknya 600 truk bantuan setiap hari secara konsisten.
Bantuan tersebut mencakup makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan gas memasak untuk menjamin kelangsungan hidup warganya dengan martabat. Mereka memperingatkan bahwa keterlambatan dan pembatasan distribusi bantuan dapat memperparah krisis kemanusiaan di Gaza.
Gencatan senjata di Jalur Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober, berdasarkan rencana bertahap yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump. Tahap pertama mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina.
Sementara itu, tahap selanjutnya mencakup pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas. Namun, pelaksanaan kesepakatan itu berjalan lambat dan tidak konsisten.
Pihak Gaza menilai Israel tidak mematuhi komitmennya sepenuhnya. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa blokade masih memperlambat arus bantuan, menghambat upaya pemulihan kemanusiaan.***
Tinggalkan Balasan