Krusial.com — Sejarah seolah berulang. Apa yang dulu menimpa Erick Thohir saat memimpin Inter Milan kini kembali menghantuinya di PSSI. Gaya kepemimpinan yang ambisius namun sering terburu-buru dalam mengambil keputusan strategis membuat Timnas Indonesia harus menelan pil pahit: gagal menembus Piala Dunia 2026.
Kegagalan ini bukan sekadar urusan nasib buruk di lapangan. Ia berakar dari serangkaian keputusan yang mengulang pola lama — mulai dari salah pilih pelatih, pendekatan manajerial yang lebih korporatif ketimbang sepak bola, hingga hilangnya momentum tim yang sudah terbentuk.
Dari Inter ke Garuda: Pola yang Sama
Pada 2013, pria yang akrab disapa Etho itu menjadi orang Asia pertama yang mengakuisisi mayoritas saham klub raksasa Italia, Inter Milan. Kala itu, publik berharap kehadiran pengusaha asal Indonesia itu bisa mengembalikan kejayaan Nerazzurri. Namun harapan itu justru berakhir dengan periode penuh kegelisahan bagi para tifosi.
Beberapa keputusan Thohir di Inter meninggalkan jejak pahit: menjual pemain potensial seperti Mateo Kovacic demi menyeimbangkan neraca, nyaris menukar Fredy Guarín dengan Mirko Vučinić — keputusan yang bahkan memicu demonstrasi suporter, hingga menunjuk Frank de Boer sebagai pelatih hanya untuk melihatnya dipecat setelah 85 hari.
Kritik kala itu datang deras. Suporter menilai pria yang sebelumnya merangkap jabatan sebagai Menteri BUMN itu terlalu “berbisnis” dalam mengelola klub sepak bola. Ia lebih sering berbicara soal struktur manajemen dan laporan keuangan ketimbang prestasi dan kultur klub. “Inter bukan perusahaan, tapi identitas!” teriak Curva Nord dalam surat terbuka mereka.
Sepuluh tahun berselang, aroma yang sama kini terasa di sepak bola Indonesia.
Pemecatan Shin Tae-yong: Saat Visi Tak Bertemu Realita
Sebagai Ketua Umum PSSI, Erick Thohir memulai masa jabatannya dengan energi besar. Ia mendatangkan sponsor, mempercepat pembangunan fasilitas, dan memperkuat skuad nasional lewat naturalisasi pemain keturunan.
Namun, keputusan paling kontroversial datang pada awal 2025: PSSI secara mengejutkan memutus kontrak pelatih Shin Tae-yong — sosok yang membawa Indonesia mencatat sejarah dengan menembus babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Alasan resmi PSSI adalah masalah komunikasi dan dinamika internal. Tapi publik mencium hal lain: gesekan visi antara federasi dan pelatih. Shin dikenal tegas, keras, dan berorientasi pada hasil, sementara federasi tampak ingin arah baru yang lebih “Eropa.”
Hasilnya? Patrick Kluivert datang sebagai pengganti — nama besar di sepak bola dunia, tapi minim bukti di kursi kepelatihan. Seperti Frank de Boer di Inter dulu, Kluivert pun menjadi taruhan besar.
Dan taruhannya kalah.
Blunder Kedua: Patrick Kluivert dan Kejatuhan yang Diprediksi
Sejak awal, skeptisisme terhadap penunjukan Kluivert sudah mengemuka. Ia memang legenda Barcelona, tapi karier kepelatihannya lebih banyak diisi peran asisten atau proyek gagal di Curacao dan Turki.
Stafsus Erick Thohir, Arya Sinulingga bahkan dengan bangga menyebut Kluivert sebagai bagian dari “tim kepelatihan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.” Klaim itu kini terdengar ironis. Dalam delapan pertandingan resmi, Timnas di bawah Kluivert hanya mampu menang tiga kali, dan semuanya melawan lawan sekelas Bahrain, China, dan Taiwan.
Puncaknya, kekalahan beruntun dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) membuat mimpi Piala Dunia 2026 resmi kandas.
Tagar #ErickOut dan #KluivertOut langsung menggema di media sosial. Suporter menyebut keputusan mengganti Shin Tae-yong dengan Kluivert sebagai “blunder terfatal dalam sejarah sepak bola Indonesia.”
“Dulu salah pilih De Boer, sekarang salah pilih Kluivert. Seakan tak belajar dari masa lalu,” tulis seorang warganet, menyinggung déjà vu gaya Erick Thohir sejak di Inter Milan.
Naturalisasi: Proyek Besar, Hasil Belum Sepadan
Di sisi lain, program naturalisasi yang digagas Erick sebenarnya menunjukkan hasil nyata. Indonesia melonjak ke ranking 123 FIFA, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Nama-nama seperti Jay Idzes, Thom Haye, dan Calvin Verdonk membawa kualitas baru bagi timnas.
Namun, di balik keberhasilan teknis itu, muncul tanda-tanda kelelahan struktural. Pelatih kesulitan membangun komunikasi dan chemistry dalam skuad yang penuh pemain diaspora.
Ironisnya, alasan yang dipakainya untuk memecat Shin justru bersumber dari kebijakannya sendiri: terlalu cepat membangun tim multinasional tanpa kesiapan sistem pendukung yang matang.
Publik Mulai Hilang Sabar
Kegagalan di Jeddah menjadi pemantik gelombang kritik terbesar terhadap Erick Thohir sejak memimpin PSSI. Pengamat sepak bola Anton Sanjoyo menyebut keputusan PSSI “terlalu percaya pada nama besar tanpa melihat kompetensi.”
Media internasional juga ikut menyorot. Kolumnis De Telegraaf, Valentijn Driessen, menulis pedas, “Indonesia dengan pelatih dan pemain Belanda justru kalah dari Irak. Mereka harus kembali ke Jakarta dengan label tidak layak.”
Sementara dari dalam negeri, publik mendesak evaluasi total. Bahkan Istana melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ikut menyoroti performa tim. “Mainnya bagus, tapi nasib belum berpihak. Tetap harus dievaluasi,” katanya.
Ujian Kepemimpinan Erick Thohir
Kini, Erick Thohir menghadapi momen genting: mempertahankan kepercayaan publik sekaligus memperbaiki struktur sepak bola nasional yang ia bentuk sendiri.
Sebagai sosok yang dikenal tangguh di dunia bisnis, Erick tentu paham bahwa reputasi tak bisa dibangun dari ambisi semata. Dunia sepak bola menuntut sensitivitas terhadap kultur, kontinuitas, dan kejelian memilih orang tepat.
Blunder di Inter Milan dulu seharusnya menjadi pelajaran. Tapi kegagalan di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa sejarah kadang memang senang berulang — terutama bagi mereka yang tak sempat belajar dari masa lalu.***
source: inilah.com
Tinggalkan Balasan