Beberapa nama penting kini masuk dalam daftar pencarian internasional dan masih terus diburu aparat hukum lintas negara. Siapa saja mereka, dan kejahatan besar apa yang membuat mereka harus bersembunyi dari hukum?
Red Notice Interpol adalah permintaan global kepada aparat penegak hukum untuk menangkap sementara seseorang yang dicari, berdasarkan surat perintah dari negara asalnya.
Umumnya digunakan untuk memburu pelaku kejahatan lintas negara, termasuk buronan asal Indonesia yang kabur ke luar negeri.
Salah satu nama yang sebelumnya masuk daftar ini adalah Fredy Pratama, gembong narkoba kelas internasional.
Namun, berdasarkan informasi dari laman resmi Interpol, belakangan namanya tidak lagi muncul di daftar pencarian, per 3 Oktober 2025 pukul 13.48 WIB.
Kondisi ini memunculkan banyak pertanyaan, apakah Fredy sudah tertangkap diam-diam, statusnya dicabut, atau memang kini disembunyikan dari tampilan publik?
Pihak Interpol, Brigjen Pol Untung Widyatmoko, menjelaskan bahwa tidak semua red notice ditampilkan secara terbuka.
Ada yang hanya bisa diakses oleh aparat penegak hukum. Jadi, meskipun namanya tidak muncul, belum tentu Fredy sudah lepas dari status buronan.
Namun di luar itu, masih ada tujuh buronan asal Indonesia lainnya yang hingga kini masih aktif diburu dan namanya tercatat dalam red notice Interpol.
Lantas, siapa saja nama-nama buronan asal Indonesia yang hingga kini masih aktif dicari oleh Interpol?
Daftar Buronan Indonesia Paling Dicari Interpol
Tujuh buronan Indonesia paling dicari Interpol, mulai dari Evelina Pietruschka, Manfred Pietruschka Armin, Mendomba Randy, Edo Kurniawan, Richard Jude Daschbach, Nugroho Sofyan Iskandar, hingga Djatmiko Febri Irwansyah.
Berikut tujuh buronan Indonesia paling dicari Interpol:
1. Evelina Fadil Pietruschka

Evelina Fadil Pietruschka menjadi buronan internasional karena diduga terlibat dalam skandal pemalsuan data dan penipuan terhadap pemegang polis PT WanaArtha Life.
Ia memiliki posisi penting di perusahaan, yakni sebagai Presiden Direktur sejak tahun 1999 dan kemudian menjabat Presiden Komisaris mulai tahun 2011.
Kasus ini menyeret total tujuh tersangka, termasuk Evelina, yang dijerat dengan berbagai pasal dari UU Perasuransian, KUHP, hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Hingga kini, keberadaan dan status kewarganegaraan Evelina masih dalam proses penelusuran oleh pihak berwenang.
2. Manfred Pietruschka Armin

Manfred Pietruschka, suami Evelina, juga masuk dalam daftar buronan Indonesia yang paling dicari dan masuk daftar Interpol, atas keterlibatannya dalam kasus WanaArtha Life.
Ia dituduh membantu mengelola dan mengalirkan dana hasil kejahatan keuangan tersebut.
Baik Evelina dan Manfred, keduanya diyakini berada di California, yang mana hal ini sejalan dengan penangkapan kerabat dekat mereka di wilayah yang sama.
Aparat mengakui bahwa pelaku kejahatan ekonomi, seperti Manfred dan Evelina tergolong “kelas atas” yang memiliki akses terhadap pengacara top dan kerap berupaya menggugurkan red notice dengan dalih kasus perdata.
3. Randy Mendomba

Randy Mendomba merupakan buronan Indonesia yang dicari karena terlibat dalam penyelundupan senjata api ilegal.
Pria kelahiran Filipina pada 9 April 1976 ini memiliki kewarganegaraan Indonesia, dengan ciri fisik tinggi sekitar 170 cm serta rambut dan mata berwarna hitam.
Minimnya informasi yang tersedia membuat kasus Randy Mendomba diduga memiliki jaringan tertutup yang sulit terdeteksi, sementara penyelundupan senjata kerap terkait langsung dengan kejahatan lintas batas, seperti terorisme dan perdagangan gelap.
4. Edo Kurniawan

Edo Kurniawan sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden Wirecard Asia untuk bidang pengendalian dan keuangan internasional.
Ia menjadi buronan setelah melarikan diri dari Singapura usai terlibat dalam penggelapan dana perusahaan bersama dua bawahannya, James Aga Wardhana (WNI) dan Chai Ai Lim (warga Singapura), yang kini telah dipenjara.
Total kerugian dalam kasus ini mencapai lebih dari 123 ribu dolar Singapura.
5. Richard Jude Daschbach

Richard Daschbach, adalah seorang mantan pastor berkewarganegaraan ganda Indonesia-Amerika Serikat, yang menjadi buronan Indonesia paling dicari atas kasus eksploitasi seksual terhadap anak-anak di rumah penampungan yang ia kelola di Timor Leste.
Pelecehan ini berlangsung sejak tahun 2013 dan baru terungkap setelah para korban melapor ke pihak gereja, yang kemudian mencopot statusnya sebagai rohaniwan.
Selain kejahatan seksual, Richard Daschbach juga didakwa di California atas penggelapan dana bantuan.
Berdasarkan laman Interpol, Richard Daschbach merupakan seorang pria kelahiran 26 Januari 1937 atau berumur 88 tahun.
Richard Daschbach memiliki ciri dengan tinggi badan sekitar 1.8 meter, berat badan 72 kilogram, serta memiliki rambut berwarna abu-abu.
6. Sofyan Iskandar Nugroho

Nugroho Sofyan Iskandar menjadi buronan internasional karena dugaan pencabulan terhadap anak di bawah usia 14 tahun.
Pria kelahiran Semarang, 4 April 1968 ini dicari oleh otoritas Amerika Serikat melalui red notice Interpol.
Ciri fisik Nugroho antara lain tinggi badan 170 cm, mata coklat, rambut hitam, dan tahi lalat di pipi kanan.
Karena menyangkut kekerasan terhadap anak, kasus semacam ini ditindak serius dan dikejar tanpa kompromi oleh negara-negara dengan sistem perlindungan anak yang ketat.
7. Djatmiko Febri Irwansyah

Djatmiko Febri Irwansyah menjadi buronan yang paling dicari atas dugaan pembunuhan seorang warga Singapura bernama Dexmon Chua Yizhi pada tahun 2014.
Meskipun tempat lahirnya tidak dicantumkan secara resmi, Djatmiko yang lahir pada tahun 1982 atau berusia 43 tahun, masuk dalam daftar red notice atas permintaan Pemerintah Singapura.
Negara tersebut dikenal memiliki sistem hukum yang keras, terutama untuk kasus pembunuhan yang dapat dijatuhi hukuman mati.
Sayangnya, keberadaan Djatmiko Febri Irwansyah hingga saat ini masih belum diketahui.***
source: inilah.com
Tinggalkan Balasan