Krusial.com — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA melemah 1,18% ke Rp 8.400 pada perdagangan Selasa (29/7/2025). BBCA sempat menyentuh Rp 8.375, yang merupakan level terendahnya dalam satu bulan terakhir.

Sebanyak 104,24 juta saham Bank Central Asia diperdagangkan, frekuensi 36.985 kali, dan nilai transaksi Rp 878,07 miliar. Saham ini banyak didistribusikan. Asing pun sampai mencetak net sell Rp 563 miliar, tertinggi di antara saham-saham net sell asing.

Dalam periode tahun berjalan (ytd), saham bank swasta ini melorot 13,18%. Dengan asing membukukan net sell mencapai Rp 17,2 triliun, tertinggi di antara saham net sell asing dalam periode ytd.

Secara valuasi, saham BBCA lagi undervalue. Rasio price to book value (PBV) 4,2 kali atau sama dengan -2 PBV standard deviation rata-rata tiga tahun. Sedangkan, price earning ratio (PER) 18,46 kali (TTM), nyaris sama dengan -2 PE standard deviation rata-rata tiga tahun.

Target Harga Saham

Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam Investor Digest 17 Juni 2025 lalu mengungkapkan bahwa laba bank only BCA (BBCA) naik 16% yoy pada 5M25, didorong oleh pertumbuhan pinjaman yang sehat sebesar 12% dan biaya kredit yang stabil pada 0,4%.

Tidak termasuk dampak dari pertumbuhan dividen dari anak perusahaan, pertumbuhan PPOP yang disesuaikan adalah 8% yoy dan pertumbuhan laba yang disesuaikan adalah 10% YoY pada 5M25 – masih merupakan pertumbuhan laba tertinggi di antara 4 bank besar. “Pertahankan beli,” kata Mandiri Sekuritas merekomendasikan.

Selain itu, Mandiri Sekuritas memasang target harga saham Bank Central Asia (BBCA) atau BCA Rp 11.000. Sebagaimana diberitakan, Bank Central Asia (BBCA) mencetak laba bersih tahun berjalan (bank only) hingga Mei 2025 mencapai Rp 25,16 triliun, meningkat 16,31% year on year (yoy).***

source: investor.id