Krusial.com — Desa Riting, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, dalam dua tahun terakhir telah dikenal luas sebagai desa sentra janeng berkat aktivitas warganya dalam memanfaatkan sumber daya tumbuhan lokal tersebut sebagai sumber ekonomi.
Menurut Keuchik Gampong Riting, Zakaria, warga desa mereka telah secara turun-temurun memanfaatkan tumbuhan janeng sebagai bahan pangan alternatif selain beras. Aktivitas ini telah berlangsung lama dan diyakini sudah ada sejak zaman perang.
Warga memanfaatkan janeng sebagai bahan pembuat keurabe. Setelah dipanen, kulit janeng dibuang, lalu dirajang tipis-tipis dan direndam di air sungai yang mengalir untuk menghilangkan racunnya. Bagi yang tidak tahu cara mengolahnya, janeng ini mengandung racun dan tidak bisa dikonsumsi dengan baik karena berbahaya. Namun, jika diolah dengan benar, janeng diyakini mengandung banyak khasiat, seperti anti-rematik.
Saat ini, masyarakat setempat masih melakukan proses perajangan secara konvensional menggunakan pisau, yang selain memakan waktu, terkadang juga menyebabkan cedera pada tangan si perajang, seperti yang diakui oleh Nasru, salah seorang pengolah janeng.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas kerja pengolahan tersebut, dosen Universitas Syiah Kuala yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) melakukan perbaikan teknologi dengan memperkenalkan alat Teknologi Tepat Guna (TTG) perajang mekanis yang menggunakan motor listrik.
Menurut Ketua PMKI USK, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc., kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan nilai ekonomi janeng (Dioscorea hispida dennst) sebagai bahan pangan alternatif berkelanjutan berbasis Teknologi Tepat Guna.
“Selain alat TTG perajang, kami juga membuat alat pengupas, pembuang racun, pengering, dan penepung. Dengan harapan, selain meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja masyarakat, juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dan diversifikasi produk olahan berbahan janeng. Kami ingin desa ini berkembang dari sentra produksi menjadi sentra industri berbasis TTG,” ujar Yasar.
Kegiatan PMKI ini juga melibatkan dua mitra dari kampus PTN-BH lainnya, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Andalas (UNAND).
Formasi lengkap Tim PMKI ini adalah Universitas Syiah Kuala (Host) dengan Ketua Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc., dan anggota: Dr. Mustaqimah, S.TP., M.Sc., Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., dan Dr. Khairi, M.Si. Sementara itu, mitra dari USU adalah dr. Zulham, M.Biomed, Ph.D., dan dari UNAND adalah Dr. Eka Candra Lina.***
Tinggalkan Balasan