Krusial.com — Museum Negeri Gayo adalah sebuah lembaga yang bertujuan untuk melestarikan dan memamerkan warisan budaya,sejarah, serta keaneka ragaman alam dari masyarakat gayo.
Museum yang terletak di Jalan Mess Time Ruang, Blang Kolak I, Kecamatan Bebesen Takengon ini berdiri sejak tahun 2005 dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban suku gayo dan kawasan dataran tinggi aceh.
Menyajikan berbagai koleksi yang mengambarkan kehidupan tradisional, kebudayaan, serta benda-benda sejarah yang berasal dari daerah ini, keberadaan museum memberikan wawasan mendalam tentang budaya gayo yang kaya dan unik.
Koleksi utama Museum Negeri Gayo ini mencakup berbagai benda peninggalan sejarah, seperti alat alat tradisional senjata, serta peralatan sehari hari yang di gunakan oleh masyarakat gayo pada masa lampau yaitu sepeti; alat berempus atau berkebun yakni cangkul, parang, galang (kampak) .
Selain itu kita juga dapat melihat berbagai pakaian tradisional yang dipakai oleh suku gayo dalam berbagai upacara adat, termasuk kain songket, ukiran, dan aksesoris yang memiliki makna budaya yang mendalam termasuk berbagai alat musik tradisional, khas gayo, seperti gegedem, teganeng yang sering di gunakan dalam pertunjukan seni dan upacara adat.
Salah satu koleksi unggulan di museum ini adalah kerangka manusia prasejarah yang di temukan di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang yang diteliti oleh Balai Arkeologi Medan Sumatra Utara yang diperkirakan berusia sekitar 4.400 tahun lalu ditemukan diloyang ujung karang pada tahun 2009 silam.
Kerangka kerangka tersebut merupakan Ras Mongoloid berbudaya Austronesia. Dari hasil analisa DNA, kerangka kerangka tersebut memiliki kesamaan dengan orang gayo sekarang sehingga bisa disebut sebagai nenek moyang orang gayo.
Di ruangan pameran kita juga dapat melihat atau menyaksikan koleksi tentang Ragam Mungerje atau tata cara pernikahan dikalangan masyarakat gayo, dan disana juga terdapat seperti lingkaran kuning atau gelang yang biasanya dipakai untuk pengantin pria dan wanita (topong).
Dengan demikian kita dapat memahami bagaimana proses Resam Mungerje atau pernikahan dikalangan masyarakat gayo yang dapat kita lihat dari berbagai narasi narasi yang ada di sana.
Disamping ruangan pameran tetap, Museum Negeri Gayo juga menyediakan ruangan pameran temporer dengan tema rempah-rempah dalam cerminan budaya gayo.
Tidak hanya rempah rempah dalam ruang tersebut juga bisa dilihat benda lain seperti (ampang) yaitu tempat duduk orang yang dituakan (petue/ tetue), ada juga batil dan tradisi mangas (bersirih), tempat yang berisi tanah dan ada kayu beserta batu di sekitarnya yang merupakan tempat memasak orang jaman dahulu. Kuali atau pun belanganya terbuat dari tanah liat dan dicetak seperti wadah yang bisa digunakan untuk memasak.
Selain itu kita juga dapat melihat berbagai jenis koleksi seperti santon (tempat untuk menggantung tikar) orang jaman dahulu yang biasanya diletakkan dibagian belakang rumah atau dapur.
Museum ini juga terdapat salah satu ruangan yang menyimpan tentang Kerawang Gayo yang menjadi simbol pakaian kebanggaan masyarakat gayo lengkap dengan makna dan arti dari motif yang ada di pakaian tersebut.
Adapun jenis-jenis motif Kerawang Gayo adalah :
- Motif Emun Berangkat – Motif Emun Beriring
- Motif Emun Berkune
- Motif Emun Mupesir
- Motif Embun Mutompuk
- Motif Puter Tali
- Motif Pucuk Rebung
- Motif Tekukur
- Motif Mata Ni Lo
- Matif Sarak Opat
- Motif Nege
- Motif Iken dan Motif Korek Ayam
Sedangkan makna pada warna yang ada dalam Kerawang Gayo adalah :
Kuning
Warna kuning dimaknai dengan musuket sifet (penuh pertimbangan) yang di simbol kan pada kerajaan. Dalam hal ini raja adalah pemimpin pemerintahah seperti bupati, camat, kepala kampong, dll yang mempunyai kewenangan dalam melindungi rakyatnya.
Merah
Warna merah merupakan perlambangan dari sipat musidik sasat yang berarti penuh keberanian dalam menegakkan kebenaran . Warna ini biasanya di simbolkan kepada petue edet (tokoh adat) dalam masyarakat.
Putih
Warna putih merupakan lambang dari perlusunet yaitu merupakan kemampuan dalam membedakan hal yang baik dan hal yang buruk dan kesucian warna ini biasanya di simpolkan kepada imem (imam/ tokoh agama).
Ijo (Hijau)
Warna hijau dilambangkan sebagai makna genap mupakat (musyawarah), dan diidentikkan dengan masyarakat sebagai rakyat.
Hitam
Warna dasar hitam yang sering di gunakan pada dalam ukiran kerawang gayo, merupakan perlambangan dari bumi.
Keunikan Museum Negeri Gayo
Desain Bangunan Tradisional
Bangunan museum ini mengusung arsitektur tradisional gayo yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.dengan atap berbentuk lancip dan ornament yang khas.
Pendidikan Dan Pengembangan Budaya
Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk melihat koleksi sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi untuk mempelajari budaya gayo melalui pameran,seminar, dan kegiatan lainnya.
Pameran Temporer
Museum mengadakan pameran temporer yang menampilkan tema-tema baru terkait sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat gayo.
Karena itu luangkan waktu untuk dapat mengunjungi Museum Negeri Gayo ini. (Mahara)
***Penulis : Mahara (Mahasiswi Fak. Tarbiyah IAIN Takengon)
Dosen Pengampu : Dr. Al Musanna, M.Ag
Mata Kuliah: Studi Literatur Budaya Gayo
Narasumber : Haji Akbar dan Gunawan. SE
Tinggalkan Balasan