Krusial | Jakarta — Pemerintah diharapkan segera mengantisipasi kemungkinan membanjirnya produk-produk Tiongkok sebagai imbas perang dagang negara itu dengan Amerika Serikat (AS). Demikian dikatakan Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho.

Menurut dia, jika tidak tercapai kesepakatan antara keduanya, ini berpotensi membuat Indonesia menjadi pasar limpahan produk impor Tiongkok. “Beijing akan mencari pasar potensial di luar AS,” ujarnya pada perbincangan dengan RRI Pro 3, Rabu (7/5/2025).

Andry menambahkan Pemerintah Tiongkok kemungkinan besar akan membidik Indonesia sebagai salah satu pasar potensial. Hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis yang tidak terlalu jauh dan memiliki pasar yang besar.

Negara Tirai Bambu itu saat ini tengah mengalami perlambatan ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat konsumsi rendah dan membuat produk-produknya sulit diserap di dalam negeri.

Karena itu, Beijing memberikan bantuan stimulus kepada industri yang mengekspor produknya ke luar. “Pada saat yang bersamaan, Indonesia cukup terbuka dengan produk-produk impor,” katanya.

Andry mengingatkan jika Pemerintah Indonesia tidak membuat regulasi untuk melindungi industri dalam negeri, hal ini akan berdampak signifikan. “Pada akhirnya Indonesia menjadi sasaran empuk selama pemerintah tidak merevisi kebijakan larangan dan pembatasan produk impor,” ucapnya.

Karena itu, Andry berharap tidak ada lagi “karpet merah” bagi perdagangan besar karena dunia sudah mengalami pergeseran. “Negara seliberal AS pun sudah melakukan proteksi, sehingga Indonesia juga harus memproteksi pasar domestiknya,” ujarnya.***