Krusial | Banda Aceh — Ditengah upaya pemerintah meningkatkan cakupan imunisasi anak, ada temuan menarik sekaligus mengkhawatirkan dilapangan. Penolakan imunisasi di beberapa wilayah Aceh justru lebih banyak berasal dari pihak ayah.
Temuan ini disampaikan oleh tim Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekes Aceh setelah melakukan pendampingan dan survei di sejumlah daerah. Mereka menyebut bahwa dominasi ayah dalam pengambilan keputusan sangat memengaruhi akses anak terhadap layanan kesehatan.
“Kami temukan bahwa sebagian besar larangan imunisasi datang dari ayah, bukan dari ibu. Ketika sang ayah melarang, si ibu tak berdaya untuk membantah,” ujar Dr. Ns. Wirda Hayati, M.Kep, Sp. Kom, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Kemenkes Aceh/ PIC INEY Phase II saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif bersama RRI, Senin (28/4/2025).
Dijelaskan Wirda, situasi ini memperlihatkan bahwa keputusan rumah tangga terkait kesehatan anak masih sangat dipengaruhi struktur sosial yang patriarkal. Sayangnya, dalam banyak kampanye imunisasi, peran ayah sering kali luput dari sasaran utama.
Padahal menurutnya, keterlibatan ayah terbukti menjadi faktor penting dalam kesuksesan program imunisasi dan pencegahan stunting. Jika ayah mendukung, maka ibu dan anak akan lebih mudah mengakses layanan kesehatan.
Menjawab tantangan ini, Poltekes Aceh merancang pendekatan baru yang akan mulai dijalankan tahun ini. Kampanye dan sosialisasi imunisasi dirancang khusus untuk menjangkau para ayah sebagai target utama.
Langkah ini menjadi bagian dari inovasi pendekatan sosial-budaya yang lebih inklusif. Dengan mengajak ayah berdialog dan memahami pentingnya imunisasi, diharapkan sikap penolakan dapat berubah menjadi dukungan.
“Perubahan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan cakupan imunisasi, tetapi juga memperkuat komitmen keluarga dalam melindungi anak dari risiko stunting dan penyakit menular,” tutupnya.
Tinggalkan Balasan