Krusial | Jakarta — Presiden Prabowo Subianto mengirimkan tim lobi tingkat tinggi guna bernegosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat. Lobi ini dilakukan berkenaan dengan Indonesia dikenakan tarif resiprokal 32 persen.
“Paralel dengan itu, pemerintah juga mengurimkan tim lobi tingkat tinggi untuk bernegosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat,” ujar Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi dalam pesan singkat yang diterima Jumat (4/4/2025). Sebelumnya, Hasan mengatakan, pemerintah sedang menghitung cermat dampak dari penerapan tarif resiprokal pemerintah AS.
“Pemerintah sedang menghitung dengan cermat dampak dari penerapan tarif resiprokal yang dilakjkan oleh pemerintah US,” katanya. Bahkan, Hasan menjelaskan, pemerintah sedang menerapkan deregulasi agar produk2 Indoensia bisa lebih kompetitif.
Sejauh ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah mengeluarkan tiga kebijakan guna menghadapi gejolak global. Tiga kebijakan tersebut menjadi langkah strategis yang dilakukan pemerintah.
Pertama, Indonesia memutuskan untuk memperluas mitra dagang, lalu kedua, mempercepat hilirisasi sumber daya alam. Sementara ketiga, yaitu memperkuat daya beli dalam negeri dengan program-program yang menyentuh kesejahteraan rakyat.
Dana Moneter Internasional atau ‘International Monetary Fund’ (IMF) pun mengkritik keras kebijakan Presiden Trump. IMF menyebut, kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Trump menimbulkan risiko prospek keuangan global.
“Tarif jelas merupakan risiko signifikan bagi prospek global di saat pertumbuhan ekonomi sedang lesu. Penting untuk menghindari langkah-langkah yang dapat semakin merugikan ekonomi dunia,” kata Kepala IMF Kristalina Georgieva seperti dilansir laman AFP, Jumat (4/4/2025).
Kristalina mendesak Washington untuk bekerja sama dengan mitra dagangnya. Seharusnya, Trump mampu meredakan ketegangan isu resesi global dan meredam potensi inflasi dunia.
“Kami mengimbau Amerika Serikat dan mitra dagangnya untuk bekerja sama secara konstruktif. Guna menyelesaikan ketegangan perdagangan dan mengurangi ketidakpastian,” ucap Kristlina.***
Tinggalkan Balasan