Krusial | Banda Aceh — Harga nilam di Aceh yang sempat terpuruk sepekan lalu hingga ke titik terendah Rp 700.000/kg, kini telah berangsur membaik dalam dua hari terakhir dengan harga Rp 1,1 juta/kg di tingkat petani.

Sementara itu, harga pala basah yang telah melesu selama hampir dua bulan dengan kisaran Rp 17.000/kg – Rp 18.000/kg, kini mulai naik lagi dengan rata-rata kenaikan antara Rp 3.000/kg – Rp 4.000/kg, sehingga menjadi Rp 21.000/kg di tingkat petani.

Kenaikan harga pala basah ini menyusul terjadinya kenaikan harga minyak pala dari Rp 730.000/kg menjadi Rp 800.000/kg sejak tiga hari lalu.

Ali, seorang agen hasil bumi di Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, mengakui bahwa harga minyak nilam sempat anjlok hingga ke titik terendah Rp 700.000/kg sekitar sepuluh hari lalu.

“Saat harga minyak nilam anjlok, para pedagang sempat tidak membuka harga pembelian. Sehingga agen kelabakan dan sebagian terpaksa menahan penjualan minyak nilam kepada pedagang penampung besar untuk memperkecil kerugian,” katanya.

Namun, kondisi galau para agen penampung dan petani nilam di Aceh akibat kejatuhan harga yang sangat dalam dari Rp 1,7 juta menjadi Rp 700.000 per kilogram, tiba-tiba berubah dalam dua hari terakhir dengan kabar harga nilam mulai naik kembali menjadi Rp 1,1 juta/kg.

“Saya sendiri saat ini berani menampung minyak nilam dari petani sekitar Rp 1,1 juta per kilogram,” kata Ali.

Sementara itu, harga pala basah di tingkat petani dalam beberapa hari terakhir mulai bergerak naik dari Rp 17.000/kg – Rp 18.000/kg menjadi Rp 21.000/kg.

Kenaikan harga pala yang telah hampir dua bulan lebih terpuruk ini membuat petani sangat bersyukur, terutama menjelang lebaran Idul Fitri yang tinggal belasan hari lagi.

“Kami sangat bersyukur dengan naiknya harga pala saat ini, karena kenaikan terjadi menjelang lebaran,” ungkap Saini, salah seorang petani pala di Aceh.

“Kenaikan harga pala basah ini menyusul kenaikan harga minyak nilam dalam sepekan terakhir, yaitu dari harga Rp 730.000/kg menjadi Rp 800.000/kg,” ungkap Bahri, agen hasil bumi di Aceh Selatan.***