Ibu…
Wanita terindah.
Yang telah melahirkan, Membesarkan.
Mendidikku dan menyentuhku dengan kasih sayang

Kerikil jalanan seakan haus darah tapak kakimu ibu
Namun tetap kau telusuri.
Tanpa menyerah untuk masa depanku anakmu.

Dibalik senyummu, kau sembunyikan lelahmu
Dibalik canda kau sembunyikan tangismu.
Meski, Seonggok cacian,hinaan.
Terkadang harus engkauu terima

Namun engkau ibu.
Engkau tidak pernah mundur dari perjuanganmu.
Dan lihatlah sekarang ibu. Sekarang engkau mampu mengubah seorang bayi laki-laki
Menjadi seorang pemuda pembela bangsa.

Engkau telah mengantarkan aku, kedepan pintu gerbang.
yang bermula dalam tekad yang kuat meraih cita-cita.

aku ingat kala itu ibu, di saat aku melangkah ke Medan juang, engkau selalu melepas aku dengan do’a dan deraian air mata.

Bayangan mu selalu hadir dalam damai, ketulusan mu sejukkan hati di relung kalbu.

Dan aku tau ibu.
Bukan setumpuk emas yang engkau minta dari kesuksesanku.
bukan pula gulungan uang yang engkau harap dari keberhasilanku.

Aku faham dan mengerti.
Karena engkau pernah berkata kepada ku.

“Anakku belahan jiwaku, permata hatiku, sayangi ibu saat aku di sisimu, dan nanti setelah waktu memisahkan senyumku dari jasadku. Anakku