Krusial | Banda Aceh – Berbeda pilihan di Pilkada 2024 merupakan hal yang wajar. Oleh sebab itu, masyarakat diminta agar tidak ada konflik disaat dan usai pilkada nanti.

Berbeda pilihan dalam Pilkada merupakan hal yang wajar, karenanya tidak harus membuat kita terpecah belah. Persatuan merupakan hal yang lebih penting dalam menjaga keutuhan bangsa Aceh.

Untuk itu mari kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan pada pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Aceh 2024 ini.

Di dalam sebuah demokrasi,berbeda pilihan itu wajar belaka. Oleh sebab itu jangan mudah bertengkar, jangan saling menjelekkan jangan saling memfitnah, jangan mudah tersulut emosinya, dan nanti setelah berkompetisi bersatu kembali.

Seruan tersebut pernah disampaikan Calon Gubernur Aceh nomor urut 01, Bustami Hamzah – Fadil Rahmi saat menghadiri silaturrahmi dengan 3000 masyarakat Aceh Besar di Gedung Yusriah, Lampeunurut, Aceh Besar baru-baru ini, atau tepatnya pada Kamis, 14 November 2024.

Jangan hanya karena berbeda pilihan membuat kita, masyarakat Aceh, terpecah belah. Tetap yang paling utama adalah menjaga persatuan dan kesatuan serta keharmonisan bermasyarakat,” kata Bustami Hamzah yang kerap di sapa Om Bus ini.

Memang masyarakat Aceh harus sadar bahwa pesta demokrasi baik pemilihan Gubernur, Bupati/walikota akan terus berlangsung setiap 5 tahun sekali.

Nah, oleh karena itu, agenda 5 tahunan itu jangan sampai membuat masyarakat terpecah.

Kalau setiap 5 tahun kita diajarkan membenci, menghina dan memfitnah, pertanyaannya, di 5 tahun keberapa Indonesia ini akan pecah. Karena kalau setiap hari kita diajarkan membenci, mungkin 40 persen saja masyarakat Aceh, 40 persen saja masyarakat Indonesia kerjaannya saling membenci, bisa pecah Aceh dan bisa-bisa pecah negara kita.

Karena itu berharap dalam memilih pemimpin daerah masyarakat tidak hanya melihat program dari calon yang akan dipilih, tetapi juga melihat gaya saat debat menyampaikan visi misi dan cara kampanyenya.

Dalam memilih pemimpin selain melihat orangnya, programnya, lihat juga cara kampanyenya. Kalau cara kampanyenya menjelekkan, memfitnah, menjatuhkan, maka yakinlah ketika dia menjabat enggak tenang hatinya dalam menjalankan jabatan itu.

Kenapa karena, dia akan merasa mendapatkan jabatan itu karena jabatan yang dia peroleh buah dari menghina-hina dan menjelek-jelekkan orang atau lawannya.

Namun di lain waktu yang berbeda, melalui media ini , ia mengajak masyarakat di Nanggroe Syariat ini untuk terus menjaga persatuan dengan tidak menyebarkan fitnah, berita bohong dan menjelek-jelekkan paslon lain.

Dalam kesempatan kali ini, kami mohon izin mengajak masyarakat Aceh, menjadikan politik saat ini dan ke depannya politik sopan santun, politik beretika, politik riang gembira bukan politik bermusuhan.

Seperti yang sering di sampaikan Bustami Hamzah Cagub Nomor 01 yang terus menerus mengajak masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan baik, tidak memprovokasi dan menjelek-jelekkan pasangan lain dan pendukungnya.

Oleh karena itu, Pilkada yang tinggal beberapa hari lagi ke depan masyarakat dan biasanya ibu-ibu grup WA nya atau facebooknya pun banyak. Nah, kalau nanti di grup WA nya ada yang menebar fitnah, menjelekkan paslon lain, minimal diamkan, jangan di forward, diamkan saja,” kata Om Bus.***