Krusial | Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) tengah mengkaji terkait mitologi yang berperan besar, dalam dinamika sejarah pergerakan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) ke Maluku.
Dikutip dari keterangan tertulis Humas BRIN pada Selasa, 26 Maret 2024, kajian terkait mitologi tersebut berdasarkan buku berjudul “Dari Siluman jadi Nenek Moyang: Dinamika Sejarah Mistis di Tengah Pergerakan ke Maluku” karya dosen Universitas Indonesia, Geger Riyanto yang di bahas melalui acara Forum Diskusi Budaya ke-73.
Geger, menjelaskan, bahwa terdapat mitos pada masyarakat Sulawesi Tenggara, di wilayah Munda dan Buton, mengenai La Ode Wuna sebagai penjelmaan makhluk setengah ular. Dikisahkan Geger, pada akhirnya, siluman ular ini diresmikan sebagai nenek moyang dari sejarah pergerakan Maluku, yang menjadikan mitos tersebut berkembang di sana.
“Selanjutnya, hal itu sebagai sekelumit kisah yang mewakili cerita mistis di tengah masyarakat Indonesia yang dipercaya menjadi salah satu budaya Indonesia,” ujar Geger.
Ia menjelaskan, dari sisi struktur mitos, La ode Wuna, yang disebut – sebut sebagai sosok ular setengah manusia, adalah seorang pangeran dari Muna yang diusir. Ia menyampaikan, meskipun tidak ada penjelasan sejarah secara spesifik, cerita terkait mitologi ini dimungkinkan terjadi di masa kerajaan jaman dahulu. ”Jika berbicara dalam kondisi sekarang, ini merefleksikan pergerakan orang Buton ke Maluku Tengah yang berlangsung intens akhir abad ke-19 sampai hari ini,” ujarnya.
Geger mengatakan, bahwa sejak dahulu, sebetulnya Buton tergabung masuk ke dalam Maluku. Menurut penjelasannya, Kesultanan Buton merupakan bagian dari “Dunia Maluku” yang berpusat di Ternate. Ia menegaskan, cerita itu muncul dalam catatan kronikus portugis bernama Antonio Galvao yang sempat tinggal di Ternate tahun 1536 sampai 1539.
Ia juga menemukan mitos yang disebut sebagai “Bikusagara”, merupakan seorang tetua di Ternate yang menemukan empat telur naga. Empat telur naga yang kemudian menetas dan lahir menjadi empat manusia. Saat beranjak dewasa, keempat telor naga yang menjadi majismenjadi Raja Bacan, Raja Papua, Raja Butung (Raja Buton) dan Banggai, dan istri Raja loloda.
Pada sisi lain, Geger menceritakan kisah migrasi orang Buton ke Maluku yang bersifat ekonomis, kedatangan mereka dilatarbelakangi karena terdapat kesempatan kerja pasca industrialisasi eropa, yaitu dengan membuka kebun kelapa, juga bekerja sebagai buruh musiman di kebun cengkeh orang Maluku. Sebelumnya mereka sudah memiliki jaringan dagang dengan Maluku Tengah.
Dalam ulasan yang lain, Geger menceritakan, La Ode Wuna memiliki keberagaman. Kisah tersebut selalu diulang-ulang. Hal itu menjadi elemen kontradiktif yang paling mudah diingat. Ia dikisahkan sebagai anak Sultan Muna yang berbadan separuh ular, yang mendapat hukuman dikurung dan diusir oleh ayahnya karena sebuah skandal. Setelah itu ia pergi ke Seram. Ia digambarkan sebagai sosok sakti yang bisa hadir kapan pun, menjadi pelindung dan pemberi berkah untuk orang banyak.
Dalam cerita lain, La Ode Wuna diintegrasikan dalam sejarah mistis dunia Maluku. Ia muncul dalam sejarah mistis sebagai utusan kerajaan luar dalam mitos di Waraka, tahun 1973-1974. saat itu, orang Buton belum dikaitkan dengan La Ode Wuna. Tujuannya agar masyarakat Seram memiliki ritual dan mitos untuk mengintegrasikan ‘yang asing’ ke dalam masyarakat mereka dan terhubung dalam kosmologi mereka.
Kemudian Geger memperjelas, karena diintegrasikan dalam sejarah mistis Maluku dan banyak diceritakan di antara komunitas-komunitas, La Ode Wuna diambil balik oleh orang Buton sebagai bukti sejarah. Karena orang Buton mengalami diskriminasi dan direndahkan sebagai orang asing di Maluku.
Dari ceritanya, Geger lantas menyebutnya dengan sebutan sebagai ‘teteh ular’. Ia kemudian menjadi subjek kontroversi yang lebih luas di Maluku Tengah. Karena banyak orang di Maluku Tengah tidak suka dengan klaim sejarah mistis La Ode Wuna yang dianggap ‘ngawur’ sehingga menjadi tema eksotis di antara orang-orang Sulawesi Tenggara sendiri.
Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Hutomo, menanggapi terkait pembahasan yang telah dipaparkan oleh Geger. Menurutmu, bukan lantaran sifatnya sentimental, pulau di dunia ini bahkan diterima atau menjadi satu kesatuan dari komunitas yang ada di Maluku yang berasal dari Buton.
“Secara tidak langsung, mitos ini mempunyai peranan penting dalam komunitas Maluku sendiri. Walaupun ada beberapa konteks di mana mitos tersebut menyajikan kepada manusia tentang sesuatu untuk dipercaya dan ditakuti,” ujarnya.
Hutomo kembali menjelaskan, di sisi lain hal itu juga memberikan harapan bagi manusia. Cerita tersebut secara tidak langsungm engandung nilai-nilai mengenai aktivitas kehidupan manusia, supaya tidak saling memusuhi dan bersinggungan, hidup harus akur atau rukun, jika dilihat dari segi budaya, hal itu menjadi penting dalam suatu komunitas atau budaya tertentu.***
Tinggalkan Balasan