Pukul 06.00 Wib pagi bulan Ramadhan ini matahari belum terlihat dari sisi timur Aceh Selatan. Suara sholawat dari masjid baru saja berhenti menandakan shalat jamaah telah selesai. FJ (25) seorang lulusan sarjana komputer di universitas ternama di Aceh sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kebun sawit yang terletak di Kluet Selatan bersama dua orang temannya.
Ia tidak membawa bekal makanan sama sekali, karena ia memilih tetap berpuasa meski ia akan bekerja berat yaitu memanen kelapa sawit milik orang lain.
Sebenarnya keluarganya juga mempunyai lahan sawit, namun ia tetap memilih bekerja memanen sawit milik orang lain untuk memanfaatkan waktu yang kosong, karena ia masih pengangguran setelah ia diwisuda beberapa tahun yang lalu.
Menurut badan pusat statistik provinsi Aceh tingkat pengangguran terbuka Aceh Selatan adalah 4,73 persen di bulan Agustus 2023 dan FJ termasuk salah satunya.
Pemandangan pegunungan dan persawahan sangat memanjakan mata menuju ke lokasi penodosan kelapa sawit, dan jalan yang berlobang karena tidak beraspal membuat FJ harus menginjak pedal rem sepeda motornya sambil tangan kirinya memegang alat dodos sawit, sedangkan tangan kanannya memegang setang sepeda motornya dan di belakang terdapat dua keranjang yang terbuat dari rotan.
Sekitar 700 meter dari jalan yang beraspal FJ pun tiba di lokasi yang terletak di pinggir jalan kerikil yang berlobang. Ia pun memarkirkan kendaraannya di bawah pohon sawit tersebut.
Ia dan teman lainnya mempunyai tugas masing-masing, FJ dan satu temannya menodos sawit dan teman satunya lagi memindahkan pelepah sawit yang sudah di potong ditumpukan pelepah serta menumpukan buah sawit di jalan terdekat yang nantinya akan diangkut dengan sepeda motor.
Sekitar 6 jam FJ menyelesaikan tugasnya memanen sawit dan pemilik kebun bertanya kepadanya,”Puasa?” dan ia menjawab,”Puasa!”
Setelah selesai berbincang dengan pemilik kebun FJ pun pulang ke rumahnya di Kluet Timur. Kemudian pemilik kebun menelepon mobil pengangkut yang bekerja sama dengan RAM atau pembeli buah sawit.
Mobil tidak kunjung datang, hal ini sangat mengecewakan pemilik kebun, sering sekali mobil pengangkut sawit telat datang, hingga sore pemilik kebun menunggu padahal pemanenan sudah selesai dari pukul 11.30 Wib. Pemanenan ini lebih cepat dari bulan biasanya.
Permasalahan transfortasi ini belum ada solusi sama sekali, namun pemilik kebun tetap memilih bersabar dan tidak ingin membahasnya karena berbagai alasan akan dilontarkan sang supir, katanya.
Setelah mobil tiba di pukul 17.00 Wib, pemilik kebun pun berangkat ke RAM untuk menjual kelapa sawit tersebut, namun kejanggalan yang sering terjadi adalah pemilik sawit tidak menyaksikan berat timbangan kelapa sawit tersebut karena mobil duluan tiba ke lokasi dari pada pemilik kelapa sawit. Dan jika ada kecurangan dalam timbangan, pemilik sawit sama sekali tidak tahu. Apakah jual beli seperti ini efektif?
Sudah berbulan-bulan pemilik kebun menahan kepahitan dengan rendahnya nilai pendapatan dari kelapa sawit karena kecilnya buah di akibatkan perawatan kurang seperti pupuk dan beragam komentar di terimanya dari warga yang melintas di depan kebunnya.
Sore itu harga sawit Rp.1.700 perkilogram, setelah memangkas harga mobil dan pinjaman, pemilik sawit tersebut pun menerimanya dengan rasa syukur.
“Tolong jumlahkan harga untuk dodos,” ujar pemilik kebun kepada pemilik RAM.
Angka di kalculatornya pun keluar setelah dikalikan Rp.300 perkilogram lalu ia mencatatnya di belakang kwitansi pembelian.
Sebelum puasa ongkos dodos Rp.200 namun saat puasa ongkos dodos naik Rp.100 menjadi Rp.300.
Suara alunan ayat suci Al-Qur’an sebentar lagi akan terdengar dari masjid, pemilik kebun berangkat menuju rumah FJ, ia tidak mau menunda jerih payah seseorang sesuai dengan anjuran agama, setibanya di rumah FJ pemilik kebun memperlihatkan kwitansi timbangan kelapa sawit tersebut agar sama-sama terbuka dan tidak ada yang di sembunyikan. Dan uang pun diterima oleh FJ yang mewakili dua rekan lainnya.***
Baca dan cari artikel, berita serta konten lainnya di Google News
Tinggalkan Balasan