Krusial | Banda Aceh – Keberhasilan Kabupaten Aceh Selatan sebagai Juara Umum Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 8 ditanggapi penuh suka cita oleh seluruh warganya. Bagaimana tidak, ini adalah kali ketiga piala bergilir berhasil dibawa pulang ke negeri Pala.
Bukan hanya warga yang di Aceh Selatan, warga yang berdomisili di luar Aceh Selatanpun tidak kurang rasa bangga dan bahagianya atas prestasi tersebut.
Salah satu putra Aceh Selatan yang dimintai responnya adalah Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc, akademisi Universitas Syiah Kuala yang saat ini menjabat sebagai Plt. Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Menurut Yasar, kemenangan ini harus dimaknai dengan lebih serius, tidak sekedar menjadi juara, lalu ditanggapi secara euphoria, lantas merasa puas dan berhenti sampai disitu.
“Ada hal yang lebih penting dilakukan setelah ini baik oleh masyarakat maupun pemerintah di kabupaten, yakni membuktikan bahwa kita memang layak dinobatkan sebagai juara dan siap menjadi contoh atau rujukan bagi kabupaten/kota yang lain dalam hal pelestarian budaya,” kata Yasar.
Menurut Mantan Direktur Politeknik Aceh Selatan itu, momentum juara umum PKA 8 ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk menjadikan Kabupaten Aceh Selatan sebagai Kabupaten Budaya.
Kabupaten Budaya maksudnya adalah kabupaten yang memiliki keunggulan dalam upaya pelestarian adat, istiadat, dan budaya daerah. Dan upaya tersebut terlihat nyata dalam kehidupan warga masyarakatnya. Baik dalam identitas keseharian, penerapan nilai-nilai, maupun secara visualisasi yang berkarakter spesifik budayanya.
Dalam pandangan Ketua MPW Pemuda ICMI Aceh ini, Aceh Selatan memang memiliki kekuatan yang besar dalam konteks budaya karena didukung oleh adanya perpaduan tiga etnis besar (Aceh, Aneuk Jamee, dan Kluet) yang nyaris mewakili kebudayaan Aceh secara umum. Dan ini harus mampu dikelola dengan baik dalam bingkai pembangunan berkelanjutan.
“Peran Majelis Adat Aceh yang ada di kabupaten perlu diperkuat untuk merevitalisasi aktivitas adat istiadat dan budaya yang mulai memudar di tengah-tengah masyarakat. Walaupun kepudaran tersebut masih tergolong lebih aman dibanding daerah lain, namun lewat peristiwa ini harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan budaya yang lebih kuat lagi,” ujar Yasar.
“Kita berharap pemerintah untuk terus menggali dan melestarikan budaya, sementara masyarakat harus merasa bangga dengan adat, istiadat, serta budaya yang dimilikinya, sehingga terus dijunjung tinggi dan dipertahankan penerapannya di tengah tantangan kehidupan yang semakin modern,” pinta Yasar.***
Tinggalkan Balasan