Krusial.com | Aceh Tamiang – Satu individu Orangutan sumatra (Pongo abelii) berjenis kelamin jantan dievakuasi dari kebun masyarakat yang terisolir di Dusun Kaloy, Gampong Perkebunan Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Satwa lindung dengan nama latin Pongo abelii tersebut dievakuasi pada Sabtu, 15 Juli 2023.

Tim BKSDA Aceh dan OIC mendapatkan laporan awal dari masyarakat dan langsung menuju ke titik lokasi untuk melakukan proses evakuasi. Evakuasi dilakukan dengan cara tembak bius.

“Benar, kita bersama BKSDA Aceh dan SOCP YEL berhasil merescue satu individu Orangutan sumatra di perladangan dusun Kaloy Desa Perkebunan Pulau Tiga, Tamiang Hulu,” ucap Manager HOCRU OIC (Orangutan Information Center), Krisna, Sabtu (22/7/2023).

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis hewan, tidak ditemukan luka benda tajam ataupun peluru tembak di tubuh Pongo abelii. Kondisi satwa kunci tersebut dalam keadaan sehat, dan sudah direlokasikan ke habitat aslinya.

Krisna menerangkan, area evakuasi Orangutan tersebut dilakukan di lokasi APL kebun masyarakat yang tidak ada koneksi dengan hutan lindung dan areal konservasi lainnya. Sehingga diperlukan upaya translokasi.

“Translokasi juga kita lakukan di hari yang sama yaitu pada Sabtu 15 Juli 2023 diareal dengan vegetasi hutan Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang,” kata Krisna.

Lanjutnya, pemilihan lokasi tersebut juga berdasarkan keputusan bersama pihak BKSDA Aceh dan tim Rescue untuk translokasi Orangutan ke kawasan hutan dengan ketersediaan pakan yang cukup serta jauh dari pemukiman warga.

Krisna menuturkan, penyebab terjebaknya beberapa individu Orangutan di kebun masyarakat terjadi akibat hilangnya koneksi pohon ke areal hutan. Peralihan fungsi hutan menjadi area perkebunan, dan pembukaan jalan kerap memicu konflik satwa dan manusia.

“Di tahun 2023 kita sudah menyelamatkan 11 individu Orangutan dari lokasi terisolir,” ungkap Krisna.

Krisna juga menyebutkan terus melaksanakan beberapa program tentang penyadartahuan ke masyarakat tentang pentingnya melindungi satwa dan hutan serta cara merespon konflik yang terjadi. “Saat terjadi interaksi negatif, masyarakat bisa berinisiatif untuk segera melapor,” tuturnya.