Krusial.com | Banda Aceh – Ketua Jurusan Geografi Unsyiah, dosen pengajar geopolitik dan geografi sejarah, Daska Aziz, berharap kepada semua pihak benar-benar memiliki semangat yang sama dalam menjunjung tinggi sikap terhadap nilai, harkat dan martabat kemanusiaan.

Memartabatkan manusia merupakan sikap yg wajib diamalkan dan jalankan dalam kehidupan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Oleh karena itu kita patut, seharusnya mendukung dan terus mendorong agar icon Rumoh Geudong diabadikan menjadi situs sejarah yang bertujuan bukan sekedar untuk diingat tetapi juga menjadikan sumber belajar generasi bangsa agar tragedi kemanusiaan yang terjadi tidak terulang,” kata Daska dalam rilis yang diterima Krusial.com, Minggu 25 Juni 203.

Menurut Daska, menumbuhkan sikap dan perilaku yang terus menjunjung dan memperjuangkan martabat kemanusian sesuai sila kedua pancasila supaya terus tertanam dalam sikap perilaku kita.

Dia berharap semua pihak harus belajar dari sejarah pahit kisah kelam itu untuk memperkuat semangat anti terhadap perilaku kejam pembantaian masa lalu di Aceh tidak berulang dimanapun dan kapanpun di Republik ini.

“Belajar dari kejadian konflik politik dan tragedi kemanusian tragis di Aceh mari kita pelihara dan menjadikan referensi penting dalam memperkuat penghargaan dan pembangunan kemanusiaan di tanah air kita,” ujarnya.

Terkait rencana peruntukan pembangunan komplek rumoh geudong yang mungkin akan diumumkan dalam momen kunjungan presiden, pemerintah seharusnya mempertimbangkan Kesesuaian dengan sejarahnya, warga setempat tak mesti pembangunan Masjid.

Menurut Daska, Kompleks Rumoh Geudong salah satu catatan sejarah konflik dan perang aceh sangat perlu diabadikan dan dibangun museum untuk merawat ingatan masyarakat Aceh tentang konflik berkepanjangan di Aceh.

“Merawat sejarah tentu bukan untuk mengungkit masa lalu, tetapi sangat penting untuk menjaga perdamaian Aceh yang abadi disamping sebagai situs sejarah pelanggaran HAM berat di Aceh,” pungkasnya.